Simak penjelasan tentang membayar fidyah bagi ibu hamil berikut!

Cara Membayar Fidyah Bagi Ibu Hamil / foto by pexels

Fidyah berasal dari kata “fadaa” yang memiliki arti mengganti atau menebus. Fidyah merupakan cara yang bisa dilakukan oleh seseorang untuk mengganti puasa ramadan yang ia ditinggalkan dengan cara memberi makan orang miskin sesuai dengan hari yang ditinggalkan.

Di bulan ramadan, umat muslim di wajibkan untuk berpuasa. Namun, ada orang-orang tertentu yang dibolehkan untuk tidak berpuasa, salah satunya ialah ibu hamil. Namun, ia wajib menggantinya dengan membayar fidyah.

”(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (Q.S. Al Baqarah: 184)

Menurut Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) ada tiga kriteria orang yang diperbolehkan membayar puasanya dengan fidyah, yaitu:

1. Orang tua renta yang tidak memungkinkannya untuk berpuasa

2. Orang sakit parah yang kecil kemungkinan sembuh

3. Ibu hamil atau menyusui yang jika berpuasa khawatir dengan kondisi diri atau bayinya (atas rekomendasi dokter).

Fidyah Untuk Ibu Hamil

Ibu hamil yang meninggalkan puasa ramadan wajib mengganti dengan membayar fidyah.

Ibu hamil yang wajib membayar fidyah adalah mereka yang sebenarnya mampu untuk berpuasa, namun memilih untuk tidak berpuasa karena ada kekhawatiran terhadap kesehatan anaknya.

Lebih baik membayar fidyah saat bulan ramadan atau hari di mana tidak berpuasa sebelum Idul Fitri. Namun, juga bisa melakukannya setelah ramadan.

“Dalam pembayaran fidyah diperbolehkan memilih waktunya antara mengakhirkannya (di akhir Ramadan) dan antara mengeluarkan nilai harga fidyah-nya di setiap hari atau setelah terbitnya fajar pada setiap hari Ramadan (puasa yang ditinggalkan) dan tidak diperbolehkan mempercepat pembayarannya (ta’jil) karena berarti mendahului pelaksanaannya sebelum waktu diwajibkannya,”

kata Imam Ar-Ramli As-Syafi’i, dilansir Ensiklopedia Fiqih Wanita.

Pembayaran fidyah bisa dilakukan dengan beras, makanan pokok maupun uang.

Pembayaran Fidyah dengan Beras

Berdasarkan fatwa MUI NO. 24. Tahun 2021, pembayaran fidyah dengan memberikan makan orang miskin sebanyak 1 mud atau setara dengan 6 ons beras setiap hari sebanyak 3 kali sesuai dengan jumlah hari yang ditinggalkan.
Sedangkan menurut Ulama Hanafiyah, membayar fidyah sebanyak setengah sha’ gandum atau setara 2 mud atau 1,5 kg. Perhitungannya, 1 sha’ sama dengan 4 mud, berarti 3 kg.

Pembayaran Fidyah dengan Makanan Pokok

Jumlah pembayaran fidyah sebanyak hari yang ditinggkan, misal sebanyak 30 hari maka harus membayar sebanyak 30 takar yang masing-masing beratnya sebesar 1,5 kg.

Berdasarkan SK Ketua BAZNAS No. 7 Tahun 2021 tentang Zakat Fitrah dan Fidyah untuk wilayah Ibukota DKI Jakarta Raya dan Sekitarnya, ditetapkan bahwa nilai fidyah dalam bentuk uang sebesar Rp45.000,-/hari/jiwa

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like
Baca Selengkapnya

Tarhib Ramadan

Apa itu tarhib ramadan? berikut penjelasannya! Saat bulan ramadan datang, umat muslim menyambutnya dengan gembira. Masing-masing menyambut ramadan…