Simak penjelasan tentang doa kafaratul majelis (penutup majelis), adab selama di dalam majelis, hadist tentang membaca doa kafaratul majelis dan makna doa kafaratul majelis!

tempat pertemuan(majelis) / foto by pixabay

Manusia hidup butuh yang namanya sosial. Tidak mungkin ia akan hidup sendirian, dan melakukan hal semua sendirian. Dan adakalanya ia akan pergi ke suatu tempat pertemuan (majelis) di mana di situ terdapat aktivitas dan orang, seperti tempat belajar, pengajian, bersilaturahmi atau bekerja.

Nah maka dari itu, saat kita mengawalinya kita harus memulainya dengan hal yang baik seperti membaca doa. Begitupun saat mengakhirinya, kita dianjurkan untuk membaca doa.

Mengapa kita harus membaca doa saat mengakhiri suatu majelis?

Karena hakikatnya kita tidak pernah luput dari namanya kesalahan, seperti membual, berbohong, pamer, meremehkan orang lain dan sebagainya.

Oleh sebab itu dengan berdoa, Allah akan mengampuni dosa-dosa yang kita perbuat.

Adab Selama Di Dalam Majelis

Berikut adab ketika dalam majelis atau saat menghadiri majelis:

ruang pertemuan / foto by pixabay
  1. Memberikan Salam Kepada yang Datang Duluan

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian memasuki majelis maka ucapkankah salam. Dan apabila ia bangkit untuk meninggalkan majelis tersebut, maka ucapkanlah salam…” (Shahih Al-Jami’ no. 400, Silsilah ash-Shahihah no. 183 dan Shahih Abu Daud karya Al-Albani no. 4340)

  1. Tidak Memberdirikan Orang Lain, Kemudian Ia Duduk Ditempat Itu

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Janganlah seseorang diantara kalian membangunkan (memberdirikan) seseorang dari tempat duduknya, kemudian ia menduduki tempat tersebut. Akan tetapi, perluas dan lapangkanlah dalam majelis…” (Shahih Bukhari no. 6270, Shahih Muslim no. 2177)

  1. Tidak Memisahkan Dua Orang yang Sedang Duduk, Kecuali Atas Seijin Keduanya

Dari Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya r.a berkata, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak halal bagi seseorang memisahkan dua orang (yang sedang duduk) kecuali atas seijinnya…” (HR. Abu Daud. Disebutkan Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 7656, Shahih Abu Daud Syaikh Al-Albani no. 638)

  1. Tidak Duduk Ditengah-Tengah Majelis, Bila Majelis Berbentuk Halaqah

Dari Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallahu ‘anhu berkata, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat orang yang duduk ditengah-tengah majelis (halaqah).” (HR. Abu Daud bab. Adab no. 21, At Tirmidzi bab. Adab no. 11 dan dihasankannya)

  1. Apabila Duduk Hendaklah Memperhatikan Adab-Adab

Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairy, berkata mengenai hal ini: “Dan diantara adab ketika duduk dalam majelis adalah duduk dengan tenang dan sopan, tidak banyak bergerak, tidak menautkan jari-jemari, tidak bermain-main, tidak mempermainkan jenggot maupun cincinnya, tidak memasukkan jari-jarinya ke hidung ataupun ke menyela-nyela giginya, tidak banyak bicara, tidak banyak menguap dan meludah, tidak menyela orang yang tengah berbicara, berbicara dengan lembut dan sopan, serta adab-adab lainnya.” (Minhajul Muslim hal. 97. Daar Al-Aqidah)

  1. Meminta Izin Bila Meninggalkan Majelis

Diantara adab di dalam majelis selanjutnya adalah meminta ijin kepada Raisul Jalasah (pemegang kendali majelis) ketika meninggalkan majelis.

  1. Membaca Doa Kafaratul Majelis Ketika Meninggalkan Majelis

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah suatu kaum bangkit berdiri dari majelisnya tanpa mengingat Allah, kecuali kaum tadi bangkit bagaikan keledai. Dan mereka akan menyesal akan menyesal…” (HR. Abu Daud, Shahih Abu Daud karya Al-Albani no. 4064)

Hadist Tentang Membaca Doa Penutup Majelis

وعن أَبي هريرة – رضي الله عنه – ، قَالَ : قَالَ رسول الله – صلى الله عليه وسلم – : (( مَنْ جَلَسَ في مَجْلِسٍ ، فَكَثُرَ فِيهِ لَغَطُهُ فَقَالَ قَبْلَ أنْ يَقُومَ مِنْ مَجْلِسِهِ ذَلِكَ : سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ ، أشْهَدُ أنْ لا إلهَ إِلاَّ أنْتَ ، أسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إلَيْكَ ، إِلاَّ غُفِرَ لَهُ مَا كَانَ في مَجْلِسِهِ ذَلِكَ )) رواه الترمذي ، وقال : (( حديث حسن صحيح ))

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang duduk di suatu majelis lalu banyak senda guraunya (kalimat yang tidak bermanfaat untuk akhiranya), maka hendaklah ia mengucapkan sebelum bangun dari majelisnya itu, ‘subhaanakallohumma wa bihamdika, asy-hadu alla ilaha illa anta, as-tagh-firuka wa atuubu ilaik’ (Maha Suci Engkau, wahai Allah, dan dengan memuji-Mu, aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Aku meminta ampun kepada-Mu dan aku bertaubat kepada-Mu); kecuali diampuni baginya dosa-dosa selama di majelisnya itu.” (HR. Tirmidzi, ia mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih). [HR. Tirmidzi, no. 3433. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih].

عَنْ أَبِى بَرْزَةَ الأَسْلَمِىِّ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ بِأَخَرَةٍ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَقُومَ مِنَ الْمَجْلِسِ « سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ ». فَقَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّكَ لَتَقُولُ قَوْلاً مَا كُنْتَ تَقُولُهُ فِيمَا مَضَى. قَالَ « كَفَّارَةٌ لِمَا يَكُونُ فِى الْمَجْلِسِ ».

Dari Abu Barzah Al-Aslami, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata di akhir majelis jika beliau hendak berdiri meninggalkan majelis, “Subhanakallahumma wa bihamdika asyhadu alla ilaaha illa anta, astaghfiruka wa atuubu ilaik” (artinya: Maha Suci Engkau Ya Allah, segala pujian untuk-Mu, aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau dan aku meminta ampunan dan bertaubat pada-Mu).”

Ada seseorang yang berkata pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, engkau mengucapkan suatu perkataan selama hidupmu.” Beliau bersabda, “Doa itu sebagai penambal kesalahan yang dilakukan dalam majelis.” (HR. Abu Daud, no. 4857;  Ahmad, 4: 425. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)

Dalam hadist ini mengandung makna bahwa doa kafaratul majelis merupakan doa sebagai penambal kesalahan selama di majelis.

Doa ini dilakukan ketika akan beranjak dari suatu majelis. Majelis yang di maksud tidak hanya duduk-duduk tetapi juga saat ada obrolan atau pembicaraan biasa yang diyakini itu hanya perkataan yang sia-sia, maka doa kafaratul majelis ini sangatlah dianjurkan untuk dibaca.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bersabda:

مَامِنْ قَوْمٍ يَقُوْمُوْنَ مِنْ مَجْلِسٍ لاَ يَذْكُرُوْنَ اللهَ فِيْهِ إِلاَّ قَامُوْا عَنْ مِثْلِ جِيْفَةِ حِمَارٍ وَكَانَ لَهُمْ حَسْرَةً

“Setiap kaum yang bangkit dari majelis yang tidak ada dzikir pada Allah, maka selesainya majelis itu seperti bangkai keledai dan hanya menjadi penyesalan pada hari kiamat.” (HR. Abu Daud, no. 4855; Ahmad, 2: 389. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)

Bacaan Doa Kafaratul Majelis (Penutup Majelis)

doa kafaratul majelis

Bacaan Doa Kafaratul Majelis (Penutup Majelis) Arab

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـٰهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ

Bacaan Doa Kafaratul Majelis (Penutup Majelis) Latin

Subhaanakallaahumma wa bihamdika, asyhadu al-laa ilaaha illaa anta, astaghfiruka, wa atuubu ilaik.

Arti Bacaan Doa Kafaratul Majelis (Penutup Majelis)

 “Maha Suci Engkau, ya Allah. Segala sanjungan untuk-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku memohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”

Makna Doa Kafaratul Majelis

Dibalik doa kafaratul majelis terdapat berbagai makna yang bisa kita petik saat membacanya, sebagai berikut:

  1. Bacaan Tasbih

Dalam bacaan doa kafaratul majelis kita mengawalinya dengan bacaan tasbih, yang artinya Engkau Allah Dzat Yang Maha Suci dari cela dan kekurangan. Sedangkan diri kita yang memiliki banyak sekali kekurangan dan dosa.

Didalam kalimat tasbih ini kita mengakui kelemahan, kezaliman, kebodohan dan kelupaan yang ada dalam diri kita. Dan didalam tasbih ini kita berdoa dan meminta pahala dari Allah Swt.

  1. Bacaan Tahmid

Selain bacaan tasbih, terdapat bacaan tahmid yang artinya memuji Allah Swt.

Kita memuji akan kebesaran Allah Swt yang telah memberikan nikmat dan kesempatan untuk beriman, bertaubat dan taat kepada-Mu.

Allah berfirman:

وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ حِينَ تَقُومُ

Artinya :

“….Dan, bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu ketika kamu bangun berdiri.” (QS. At-Tur : 48).

  1. Doa Memohon Ampunan

Setelah kita membaca tasbih dan tahmid, barulah kita memohon ampun kepada Allah Swt. atas segala dosa, kesalahan, kezaliman, dan khilaf yang telah kita lakukan. Sebab, setiap hal yang kita lakukan sangat sulit untuk terhindarkan dari perbuatan dosa baik sengaja maupun tidak. Setelah itu dilanjutkan dengan bertaubat atas segala dosa dan maksiat.

  1. Bacaan Istighfar

Yang terakhir kita membaca istighfar, meminta kepada Allah agar selalu dalam penjagaan-Nya.

Demikian ulasan tentang doa kafaratul majelis (penutup majelis). Sebagai manusia yang tidak luput dari dosa, maka awali dan akhirilah aktivitas kita dengan berdoa, supaya Allah mengampuni dosa-dosa yang telah kita lakukan. Semoga bermanfaat!


Referensi:

Panduan Adab Bagi Seorang Muslim, Hasan Abu Ayyub

Keutamaan Doa Kafaratul Majelis, Rumaysho.com

Doa Penutup Majelis, Islam.nu.or.id

Doa Kafaratul Majelis, Wisatanabawi.com

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like
Baca Selengkapnya

Doa Sebelum Wudhu

Sholat adalah kewajiban bagi setiap muslim yang dikerjakan setiap hari. Sebelum melaksanakan sholat harus terbebas dari hadast kecil…