Simak penjelasan tips sukses berdagang ala Rasulullah berikut ini!

Tips Berdagang Ala Rasulullah Supaya Sukses / foto by pixabay

Manusia diciptakan untuk saling membantu satu sama lain. Itulah mengapa mereka disebut sebagai makhluk sosial. Untuk membantu kebutuhan yang ada, Allah memerintahkan kita untuk mengadakan perdagangan dengan cara jual beli.

Dulu pada awal sebelum adanya uang, tukar menukar dilakukan dengan sistem barter yaitu menukar barang dengan barang yang lainnya. Namun, di era modern seperti sekarang ini tukar menukar dilakukan dengan uang.

Dalam Islam, perdagangan dikelompokkan ke dalam masalah muamalah, yaitu perbuatan yang dilakukan oleh orang yang terbebani syariat (mukallaf). Kegiatan muamalah ini bersifat horizontal antar sesama manusia.

Dalam menjalankan perdagangan haruslah sesuai dengan kaidah-kaidah Islam yang ada. Dengan demikian, selain mendapatkan keuntungan materiil guna memenuhi kebutuhan juga sebagai sarana mendekatkan diri pada Allah Swt.

Setiap kegiatan yang diperintahkan oleh Allah, dilandaskan pada sumber hukum Al-Qur’an dan Hadist. Hal ini berlaku juga untuk kegiatan perdagangan yang dilakukan oleh umat Islam.

Di dalam Al-Qur’an telah dijelaskan bahwa Allah memerintahkan manusia untuk berdagang guna menghindarkan mereka dari jalan yang bathil. Seperti yang tercantum dalam surat An-Nisa: 29:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ ۚ وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang bathil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.”

Tata tertib perniagaan atau perdagangan juga telah diatur dalam Al-Qur’an, sebagai berikut:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ ۚ وَلْيَكْتُبْ بَيْنَكُمْ كَاتِبٌ بِالْعَدْلِ ۚ وَلَا يَأْبَ كَاتِبٌ أَنْ يَكْتُبَ كَمَا عَلَّمَهُ اللَّهُ ۚ فَلْيَكْتُبْ وَلْيُمْلِلِ الَّذِي عَلَيْهِ الْحَقُّ وَلْيَتَّقِ اللَّهَ رَبَّهُ وَلَا يَبْخَسْ مِنْهُ شَيْئًا ۚ فَإِنْ كَانَ الَّذِي عَلَيْهِ الْحَقُّ سَفِيهًا أَوْ ضَعِيفًا أَوْ لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يُمِلَّ هُوَ فَلْيُمْلِلْ وَلِيُّهُ بِالْعَدْلِ ۚ وَاسْتَشْهِدُوا شَهِيدَيْنِ مِنْ رِجَالِكُمْ ۖ فَإِنْ لَمْ يَكُونَا رَجُلَيْنِ فَرَجُلٌ وَامْرَأَتَانِ مِمَّنْ تَرْضَوْنَ مِنَ الشُّهَدَاءِ أَنْ تَضِلَّ إِحْدَاهُمَا فَتُذَكِّرَ إِحْدَاهُمَا الْأُخْرَىٰ ۚ وَلَا يَأْبَ الشُّهَدَاءُ إِذَا مَا دُعُوا ۚ وَلَا تَسْأَمُوا أَنْ تَكْتُبُوهُ صَغِيرًا أَوْ كَبِيرًا إِلَىٰ أَجَلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ وَأَقْوَمُ لِلشَّهَادَةِ وَأَدْنَىٰ أَلَّا تَرْتَابُوا ۖ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً حَاضِرَةً تُدِيرُونَهَا بَيْنَكُمْ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَلَّا تَكْتُبُوهَا ۗ وَأَشْهِدُوا إِذَا تَبَايَعْتُمْ ۚ وَلَا يُضَارَّ كَاتِبٌ وَلَا شَهِيدٌ ۚ وَإِنْ تَفْعَلُوا فَإِنَّهُ فُسُوقٌ بِكُمْ ۗ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ ۗ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, meka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya. Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). Jika tak ada dua oang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka yang seorang mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil; dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu. (Tulislah mu’amalahmu itu), kecuali jika mu’amalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tidak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli; dan janganlah penulis dan saksi saling sulit menyulitkan. Jika kamu lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah: 282)

Berdagang merupakan pekerjaan yang mulia. Bahkan Nabi Muhammad Saw merupakan seorang pedagang sejati. Beliau telah memulai karier berdagang sejak usianya masih muda, yaitu sekitar 12 tahun. Nabi Muhammad Saw, pertama kali berdagang saat di ajak pamannya Abu Thalib ikut rombongan dagang ke syam (saat ini Suriah).

Sejak saat itulah, Nabi Muhammad Saw. menekuni hal itu dan menjadikannya sebagai seorang pedagang yang sukses.

Namun, apa kunci kesuksesan Nabi Muhammad Saw. dalam berdagang? berikut penjelasannya!

Tips Berdagang Ala Rasulullah Supaya Sukses / foto by pixabay

1.  Niatkan Berdagang Karena Allah SWT

Rasulullah Saw. berdagang, diniatkan sebab dasar lillahi ta’ala. Bukan karena ingin memupuk harta sebanyak-banyaknya, melainkan mencari ridho Allah Swt. Barang siapa yang meniatkan berdagang karena Allah Ta’ala, maka Allah akan memudahkan jalan baginya.

“Sesungguhnya amal perbuatan tergantung pada niat, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan yang ia niatkan. Barangsiapa yang berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya maka ia akan mendapat pahala hijrah menuju Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang ingin diperolehnya atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka ia mendapatkan hal sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim).

2. Bersikap Jujur Kepada Pembeli

Saat berdagang hendaklah berbuat jujur dengan memberikan informasi yang benar mengenai kondisi barang yang dijual. Adanya kejujuran akan menambah tingkat kepercayaan pembeli, sehingga pembeli akan merasa senang dan akan membeli barang kita lagi di kemudian hari.

“Sempurnakanlah takaran dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang merugikan, dan timbanglah dengan timbangan yang lurus. Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka bumi ini dengan membuat kerusakan.” (QS. Asy Syu’araa: 181-183)

3. Menetapkan Target Pasar

Nabi Muhammad Saw, seorang pedagang yang cukup pintar dalam melakukan targeting. Beliau tidak hanya memasuki satu segmen saja, tapi beliau juga memasuki semua segmen yang ada di Semenanjung Arab. Mulai dari budak sampai pada kalangan elit.

4. Melakukan Branding dan Pelayanan yang Baik

Sebagai seorang pedagang, Nabi Muhammad Saw. dikenal cukup ramah, jujur dan dapat dipercaya, makanya beliau dijuluki sebagai Al-Amin. Karena memiliki personal branding yang baik, banyak investor yang datang menghampiri Nabi Muhammad Saw.

Dalam hal pelayanan pun, Nabi Muhammad Saw dikenal sangat baik kepada pelanggannya. Bahkan beliau lebih mengutamakan kepentingan pelanggannya dari pada dirinya sendiri.

5. Mengambil Keuntungan Sewajarnya

Dalam Islam, tidak membatasi keuntungan harus seberapa banyak, keuntungan itu adalah bagian dari rezeki yang Allah beri. Namun, mengambil keuntungan juga harus sewajarnya. Seperti yang telah di ajarkan Nabi Muhammad Saw, beliau berdagang mengambil keuntungan sewajarnya saja, tidak berlebih-lebihan. Karena selain mencari rezeki, beliau juga mencari keberkahan dalam berdagang.

Allah Ta’ala berfirman: 

Barangsiapa yang menghendaki keuntungan akhirat, akan Kami tambahkan keuntungan itu baginya, dan barangsiapa yang menghendaki keuntungan dunia, Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu kebahagiaan pun di akhirat.” (QS. Asy-Syuraa: 20)

6. Jual Beli Barang Halal

Saat berdagang, Nabi Muhammad Saw. memastikan semua dagangannya adalah barang halal serta tidak cacat. Sebab, jika hal itu terjadi akan menimbulkan kerugian bagi pembeli.

Diriwayatkan dari Uqbah bin Amir radhiyallahu ‘anhu, beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, tidak halal bagi seorang muslim untuk menjual barang yang ada cacatnya kepada temannya, kecuali jika dia jelaskan.” (HR. Ibn Majah)

“Sesungguhnya bila Allah telah mengharamkan atas suatu kaum untuk memakan sesuatu, pasti Ia mengharamkan pula hasil penjualannya.” (HR Ahmad)

7. Saling Menguntungkan Kedua Belah Pihak

Berdagang harus atas dasar suka sama suka antara kedua belah pihak, yaitu pembeli dan penjual. Yang artinya kedua belah pihak sama-sama rela dan melakukan kesepakatan bersama. Dengan begitu, keduanya bisa saling menguntungkan.

Demikianlah artikel mengenai tips berdagang ala Rasulullah. Selain mencari keuntungan materiil, berdagang juga di dasarkan pada unsur keberkahan di dalamnya. Maka, berdagang tidak hanya soal mencari rezeki, tapi juga sebagai bentuk pendekatan diri pada Allah Swt. semoga bermanfaat!

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like